Tuesday, 9 September 2014

Poem.



Gue suka baca buku. Salah satu buku yang paling gue suka yaitu buku sajak. Setiap baca sajak selalu sukses bikin gue merinding dan bikin mikir, "Gila, dapet darimana nih kata-kata ginian.". Karena kebanyakan baca buku sajak jadi bikin gue ikutan drama dan ikutan bikin sajak versi gue. Kata temen gue, semakin nggak ngerti sebuah tulisan dibaca, berarti tulisan itu keren. Dan dia nggak ngerti baca sajak gue. Itu artinya sajak gue keren. Mehehehehehe.

Akhirnya, abis dua hari nggak bisa tidur, dapet segini doang. Lumayan.



#1
Sekelebat hangat meluruhkan debu yang membatu. Kemudian mengalir ke sungai yang bermuara di kolam lumpur, dan kembali membatu.

#2
Seperti daun jati yang menunggu digugurkan oleh embun yang menggerogoti dahannya. Haruskah ia berterima kasih? Atau haruskah ia menghujat embun yang menjatuhkannya?

#3
Tak tahu apakah tempat itu neraka atau bukan. Sekali tercipta bincang yang tajam, namun sekali tercipta kepingan kristal salju yang putih.

Tak tahu apakah tempat itu neraka atau bukan. Selalu tersaji makanan hangat di dalamnya, ketika tidak seorangpun yang ingin tinggal disana.

Tak tahu apakah tempat itu neraka atau bukan. Lukisan bunga tulip yang terbagi tiga tergantung apik di dindingnya, kaku menatap bocah kecil yang menangis di hadapannya.

Tak tahu apakah tempat itu neraka atau bukan. Bocah yang dulu mengutuk tempat itu, kemudian merengek ingin kembali ke dalamnya.

#4
Gubuk reyot itu berdiri rapuh di pusat kota. Dindingnya yang terbuat dari bambu tak kuat menahan bisingnya hiruk pikuk kota. Pintunya selalu terkunci, tak tahu kemana perginya. Bahkan di salah satu dingdingnya miring tak tersangga. Sesekali ada yang peduli menyenderkan tiang bambu ke dindingya yang miring., atau membersihkan halamannya, atau menyiramkan air ke tanaman yang tumbuh di depan jendela. Namun tak pernah ada yan g membukakan pintu untuk mempersilahkan masuk, atau sekedar mengucapkan terima kasih. Entah kemana perginya penghuni yang tidak tahu diri itu.

#5
Sepi bergemeretak dari balik pintu. Terlalu takut untuk menatap kumpulan orang di kejauhan. Dan terlalu takut untuk terlelap.

#6
Laut yang menjelma gelap, tak pernah marah kepada angin yang senantiasa mengikisnya.

#7
Angin berbisik membawa pesan yang tak berkata. Manakah yang lebih dulu tercipta, langit atau bumi? 
Awan tak lagi memayungi kepala, jatuh kebawah menghantam tanah.

No comments:

Post a Comment