Thursday, 10 November 2011

Sajak, untaian kata yang membelah cakrawala.


Akhir-akhir ini, gue lagi suka banget baca buku sajak. Gatau kenapa, setiap baca sajak buat gue itu kaya mecahin teka-teki dari si penyajaknya. Penyair favorit gue adalah Sapardi Djoko Damono. Demi apapun, sajak-sajak yang dia buat keren maksimal.
Well, gue bakal nulis sajak-sajak karya Sapardi Djoko Damono yang jadi favorit gue.

Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari
Waktu aku berjalan ke barat diwaktu pagi matahari mengikutiku dari belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa d iantara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siap di antara kami yang harus berjalan di depan

Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu



Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang  menjadikannya tiada


Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari

Uoh. Dan itu dia sajak-sajak yang udah bikin gue meleleh. That’s so deep men :’)

No comments:

Post a Comment